Surat Uskup 1

Surat Uskup 2

Surat Uskup 3

Surat Uskup 4

Surat Uskup 5

Letter to His Holiness

 

 
 

Kepada Yth.
Bapa Kardinal, Bapa Uskup, Romo,
Frater, Bruder, Suster,
Bapak, Ibu dan Saudara-Saudari seiman,
Serta seluruh Anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia
Di seluruh Indonesia.

Salam Damai dalam Nama Tuhan Yesus Kristus,

Pada tanggal 24 Juli 2000 Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia pernah menulis surat untuk mengkomunikasikan beberapa hal penting yang disampaikan oleh Ibu Maria kepada anak-anaknya di Indonesia, yaitu tentang kegoncangan- kegoncangan yang akan turun secara beruntun di negara kita dan permintaannya agar anak-anaknya bertobat dan menjadi anak-anak yang baik, yang selalu dekat dengan Allah. Kalau anak-anaknya sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada Allah, mereka tidak akan terluka oleh kejadian itu.

Baru-baru ini, pada tanggal 11 Februari 2005, sekali lagi  kami menulis surat untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan Yesus dan Ibu Maria selanjutnya, khususnya pada tanggal 31 Desember 2004 dan 4 Februari 2005, di mana Tuhan Yesus menyinggung peristiwa gempa dan tsunami yang telah terjadi di Aceh, Sumut, berbagai negara Asia dan Afrika. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Dia masih menyediakan sedikit waktu bagi anak-anakNya, supaya mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik.

Bunda Maria juga menyampaikan pesan-pesan yang mendorong anak-anaknya supaya jangan takut menghadapi kenyataan sekarang ini, dan rasa takut itu dapat diatasi apabila mereka melaksanakan nasehat-nasehat Ibu Maria yang telah diberikan kepada mereka selama ini.

Hari ini tanggal 1 Mei 2005 Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia menulis satu surat lagi untuk menyampaikan pesan-pesan Ibu Maria selanjutnya berkenaan dengan Hari Pemurnian dan persiapan diri anak-anaknya menghadapi hari Pemurnian itu.

Tentang kegoncangan-kegoncangan yang akan terjadi Ibu Maria masih menyampaikan pesan-pesan berikut ini:

Pada tanggal 18 Februari 2005, saat para anggota Kelompok Pelayanan Kasih di Bandung mendaras Doa Kerinduan di Cimahi Ibu Maria berkata: “Saatnya akan tiba anakku, bumi ini akan digoncangkan oleh Allah, yang sangat dahsyat dan menyeluruh. Seluruh bumi mengalami hal yang sama. Jaga dirimu baik-baik. Jangan berbuat dosa lagi. Dekatkan dirimu kepada Allah seutuhnya”.

Seminggu kemudian, pada tanggal 25 Februari 2005, pada saat para anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia se-KA Jakarta mendaras Doa Kerinduan di Aula Paroki Santa Anna, Duren Sawit, Jakarta, kembali Ibu Maria menyinggung tentang kegoncangan itu. Dia minta agar anak-anaknya tidak menghitung-hitung waktu, melainkan memusatkan perhatian pada persiapan diri dengan baik. Kata Ibu Maria: “Anak-anakku yang Aku kasihi, janganlah engkau menghitung-hitung waktu, tapi persiapkanlah dirimu dengan baik. Waktu sangat singkat bagi Allah, karena waktu adalah milik Allah. Anakku, sebentar lagi engkau akan mengalami kegoncangan yang sangat dahsyat. Runtuhlah... runtuhlah itu semuanya. Tapi kamu yang setia, kamu tetap hidup. Engkau bahagia mengalami peristiwa-peristiwa yang turun ke bumi ini”.

Pada kesempatan itu Ibu Maria juga mengingatkan kembali para anggota Kelompok Pelayanan Kasih akan kegelapan pekat yang pernah terjadi di Cimahi pada tanggal 9 Juni 1995. Ia juga mengungkapkan tanda yang akan menghantar KTH, yaitu gumpalan-gumpalan dengan bau yang menyengat. Katanya: “Saat-saat pemurnian akan datang anakku. Awal dari kehadiranku bersama Agnes, tanda itu telah diberikan kepada Agnes bersama anak-anakKu. Pada waktu itu terjadilah kegelapan, baru kecil terjadi. Allah menutup semuanya, sehingga engkau tidak mendengarkan apa-apa pada waktu itu. Itu tanda kecil anakku, tapi tanda besar akan segera turun anakku, Kegelapan selama Tiga Hari kamu akan mengalami, tetapi aku minta kepadamu, tanda itu akan diberikan kepadamu. Tandanya adalah apabila engkau melihat gumpalan-gumpalan turun dari atas dan baunya menyengat, menyesakkan kehidupanmu, masuklah anakku, tutuplah pintu, karena itu akan terjadi kuasa Allah. Engkau tidak akan sanggup melihat kuasa Allah yang begitu dahsyat untuk memurnikan dunia. Masuklah, dan berdoalah apa yang telah Kuajarkan itu kepadamu, teruskanlah, biarlah kuasa Allah melindungi kamu sekalian dan Aku Ibumu menyertai kamu sekalian. Aku akan memelukmu melalui kuasa Allah”.

Pada tanggal 4 Maret 2005, di Cimahi, Ibu Maria mengulangi tentang sudah dekatnya Hari Pemurnian. Katanya: “Pemurnian sudah di ambang pintu bagi kamu sekalian. Engkau akan mengalami banyak peristiwa. Kalau kamu tidak menjaga dirimu dan dekat dengan Allah, kamu akan ketakutan karena peristiwa itu cukup berat bagi kamu. Tetapi jangan takut, kamu akan baik-baik saja, asalkan kamu tetap setia melaksanakan tugasmu dengan baik dan setia”.

Pada tanggal 30 Maret 2005, di Wonotawang-Sendangsono, Ibu Maria mengatakan: “Hiduplah kamu dalam doa sampai Pemurnian itu tiba, jangan takut untuk menghadapi karena akan silih berganti di negaramu. Engkau mendengar terjadi kegoncangan gempa bumi di negaramu itu akan berlanjut lebih dalam lagi, lebih dahsyat lagi yang akan kamu terima menjelang hari Pemurnian ini. Jangan takut anakku kalau kamu hidup baik bersatu dengan Allah dalam keluargamu, kamu baik damai sejahtera di situ kamu diselamatkan. Apabila di tempat ini terjadi gempa kamu jangan kemana-mana, kamu masuk dalam rumah dan berdoa. Percaya! Allah akan menyelamatkan. Karena di tempatmu ini akan terjadi gempa, tapi jangan takut. Di pulaumu ini akan segera beruntun terjadi, tapi kamu selamat.

Terakhir pada tanggal 15 April 2005, di Cimahi, Ibu Maria masih mengulangi lagi tentang akan hancurnya pulau kita ini. “Kotamu ini belum terselamatkan. Anak-anakKu masih belum sepenuhnya percaya tentang kebenaran, tentang keselamatan. Kotamu ini...! Ingat apa yang Aku katakan kepadamu: akan mengalami kegoncangan...! Apakah mereka sudah siap? Belum! Dan imam-imammu juga belum siap di kotamu ini. Mereka terlena dengan kehendak hati mereka sendiri. Lihatlah kotamu nanti, apa yang akan terjadi. Maka Aku minta kepadamu, pergilah kamu yang ada di sini, bekerjalah, dan sampaikanlah apa yang Aku katakan ini di negaramu ini. Kamu jangan takut dikucilkan oleh imam-imammu. Percaya, kalau kamu bergerak semua akan menjadi baik.

Apa peristiwa-peristiwa yang cukup berat itu?
Pada tanggal 1 April 2005, di Yogyakarta, Ibu Maria mengatakan: “Lihatlah, waktunya kamu akan mengalami sangat  menderita, itu kata dunia. Tapi kalau kamu bersatu dengan Allah, kamu bersukacita boleh mengalami segala peristiwa yang silih berganti yang akan turun ke negaramu ini. Lihat, sebentar lagi pulaumu ini akan hancur. Tapi kamu tidak akan hancur, karena kamu sungguh-sungguh setia kepada Allah dan bersatu dengan Allah dan berdoa dalam keluarga”.

Pada tanggal 2 April 2005, di Wates-Yogyakarta, Ibu Maria berkata lagi: “Saat-saat terakhir ini bencana bumi akan terjadi bermacam-macam, silih berganti, sangat sedih dan menderita. Tetapi siapa yang setia kepada Allah, dia selamat semuanya”.

Pada tanggal 8 April 2005, di Cimahi, kembali Ibu Maria berkata: “Anak-anakku, kegoncangan itu akan terus menerus turun ke negaramu ini dan di seluruh bumi. Kamu akan mengalami sebentar lagi, pulaumu ini akan digoncang oleh Allah, karena di pulaumu inilah banyak orang-orang tersesat dan menyesatkan di pulaumu ini, tapi kamu jangan takut, semua akan terjadi dengan baik dalam kehidupan keluargamu, kehidupanmu. Sampaikan itu kepada anak-anakku di seluruh tanah air ini. Waktunya sudah dekat untuk mengalami kegoncangan itu. Di pulaumu inilah kesesatan-kesesatan ada sepenuhnya dan jahat. Saatnya akan tiba Allah turun tangan menyelesaikan semua kepedihanmu dan juga kepedihan di seluruh bumi”.

Pada tanggal 15 April 2005 di Cimahi, Ibu Maria mengatakan: “Dan kamu akan mengalami...., berangkat dari pulaumu ini anak-anakKu, kamu akan mengalami  banyak peristiwa yang cukup berat. Apa kamu takut?”
 
Para Imam yang hadir pada saat pelayanan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yaitu Mgr. Kartosiswoyo dan Romo Isri diminta oleh Ibu Maria agar ikut mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi hari Pemurnian itu. Disamping itu Ibu Maria juga menyampaikan kesedihannya, karena banyak Imam masih mendua hatinya, sehingga tidak mungkin mereka bisa mempersiapkan rohani umat dengan baik.

Pada tanggal 1 April 2005 di Seturan Baru, Yogyakarta, Ibu Maria berkata: “Aku sedih, banyak Imam masuk dalam mendua hati. Bagaimana mungkin dia bisa menyampaikan dan memberikan Tubuh dan Darah Tuhan untuk menjadikan santapan rohani yang akan diterima oleh anak-anakku? Mereka juga masih belum siap. Tetapi itu tidak terputus karena para Imam, Allah mengerjakan itu semua. Siapapun yang datang menyembah Allah di dalam gereja, Tuhan akan berkati. Tetapi Imam yang mendua hati, dia mempertanggungjawabkan semua berkat yang diberikan Allah dalam kehidupannya dan bertanggung jawab kepada anak-anakku yang menerima Tubuh dan Darah Tuhan yang kekal dan abadi”.

“Anak-anakku tidak berdosa menerima persembahan itu, tetapi ditanggung oleh para Imam karena hatinya mendua, dia tidak mendapatkan berkat dan tidak bisa membawa sepenuhnya, seutuhnya, semua peristiwa misteri itu diambil alih oleh Allah kembali. Aku berbicara kepadamu hai Imamku (Mgr. Kartosiswoyo) supaya kau berikan pengertian itu kepada mereka, supaya mereka mempersembahkan dirinya sepenuhnya, seutuhnya dalam tugasnya”.

Kepada para anggota Kelompok Ibu Maria minta apabila mereka melihat ada yang mendua hati, cepat menyelamatkannya: “Jangan ditunda lagi, apa yang kamu lihat dan kamu dengar, segera sampaikan kepada Imam-Imammu untuk hal ini. Khususnya para Imam, sampaikan kepada mereka. Mereka bisa melakukan itu semuanya asalkan hatinya bersatu dengan Allah, dia sanggup melakukannya. Tapi kalau dia mendua hati, hancurlah dia walaupun dia seorang Imam, dia tidak mendapatkan apa-apa dalam kehidupannya”.

Mengapa banyak Imam mendua hatinya? Ibu Maria mengatakan: “Kuasa kegelapan sudah masuk di dalam kehidupan membiara” (rohani). Tetapi, “Anak-anakku percayalah..., Surga terus menerus bekerja. Siapa Imam-Imam yang melakukan tugasnya dengan baik, dia mendapatkannya dengan baik. Siapa Imam-Imam yang melaksanakan tugasnya dengan mendua hati dan menginginkan kepentingan dirinya sendiri, dia bagian dari dunia. Itu sudah terjadi di seluruh bumi. Tidak ada kesetiaan lagi sepenuhnya para Imam dalam panggilannya”.

Tapi agar anak-anaknya tidak berkecil hati, karena banyak Imam mendua hatinya, Ibu Maria berkata: “Kamu harus setia. Tanpa mereka, kamu punya Allah. Setialah anakku, dekatkan dirimu kepada Allah, Sang Pencipta, supaya kamu selamat dari pencobaan yang datang dari dunia ini. Cukuplah pengertian ini Kuberikan kepadamu. Ini bukan untuk menjadikan suatu perdebatan, tetapi menjadikan suatu perenungan di dalam perjalananmu, apa yang harus kamu perbuat saat-saat terakhir seperti ini”.

Sekali lagi kami sampaikan persiapan yang baik ialah mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Tuhan Yesus dan Ibu Maria, yaitu:

  1. Puasa pada setiap hari Jumat kemudian diikuti dengan
  2. Doa Pasrah dan Doa Kerinduan dalam kelompok terutama dalam keluarga,
  3. Memasang Salib (tanda kemenangan) didepan  pintu rumah kita (pada bagian luar pintu menghadap ke-jalan),  apapun yang terjadi atau yang akan kita alami, kita diminta tetap setia pada Tuhan Jesus Kristus karena hanya Dia-lah Juru Selamat kita, tidak ada Keselamatan lain diluar Tuhan Jesus,
  4. Dan kalau bencana-bencana itu terjadi, kita diminta masuk ke dalam rumah dan berdoa doa yang telah diajarkan oleh Ibu Maria (Doa Kerinduan) bersama keluarga, maka Tuhan akan menyeelamatkan kita, hanya iman kita kepada Dia, yang dapat menyelamatkan kita.
  5. Dimanapun selalu ada semangat sehati sejiwa yaitu kasih Allah sendiri, dimana kita saling mengasihi, mencintai, mengerti, memberi berkat dan mengampuni.

Sebagai informasi tambahan, apabila Bapa Kardinal, Bapa Uskup, para Romo, Frater, Bruder, Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-Saudari seiman, Serta seluruh Anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia ingin mengetahui lebih jelas lagi perihal Pesan-pesan Tuhan Yesus dan Ibu Maria, dapat dibaca dengan membuka website kami www.mariaibuyangbahagia.org (seluruh pesan dan isi hati Tuhan Jesus dan Ibu Maria dari tahun 1995 s/d sekarang dapat dibaca pada website tersebut).

Demikianlah hal-hal yang dapat kami sampaikan berkaitan dengan pesan dan isi hati Ibu Maria yang disampaikan selama bulan Februari, Maret dan April 2005 dalam rangka mempersiapkan anak-anaknya menghadapi Hari Pemurnian yang sebentar lagi akan turun. Semoga hal-hal ini mendapat perhatian dari Bapa Kardinal, Bapa Uskup, para Romo, Frater, Bruder, Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-Saudari seiman, serta seluruh anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia di seluruh Indonesia, sehingga kita bersama seluruh umat siap memasuki hari-hari pemurnian yang segera akan tiba.

Atas bantuan dan kerjasama dalam melayani Umat kami haturkan berlimpah terima kasih.

Semoga Tuhan memberkati kita sekalian dan dalam Nama Tuhan Yesus Kristus kita pasti menang.

Jakarta, 1 Mei 2005

Hormat kami,

Atas nama
Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu Yang Bahagia

 

 

 
© Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia | Entries (RSS) | Sitemap | develop by evolutionteams.com