Sharing Iman Tentang Dosa Asal di rumah Ibu Agnes Cimahi, Jawa Barat
June 30, 2017

MARIA, IBU ROHANI KITA
May 4, 2007

 

 
     
 

MARIA, IBU ROHANI KITA

4 May 2007
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
Tanggal 24 maret 2007 yang baru lalu, telah genap dua belas tahun Tuhan Yesus dan Ibu Maria hadir bersama kita di Indonesia, dan menyampaikan pesan-pesan mereka dalam rangka mempersiapkan kita menghadapi hari-hari Puncak Pemurnian yang sebentar lagi akan tiba, berupa tiga hari kegelapan.
 
Dari pesan-pesan yang disampaikan, dengan berat hati kita harus menyimpulkan, bahwa baik Tuhan Yesus maupun Ibu Maria, tidak puas dengan mutu kehidupan rohani kita sekarang ini. Kita masih terlalu terarah kepada dunia.
 
Lebih dahulu, mari kita dengarkan kata-kata Tuhan Yesus berikut ini: “Celakalah kamu. Kalau kamu mengikuti dunia, celakalah kamu bersama dunia. Dan sia-sialah hidupmu, tidak akan mendapatkan apa-apa, dan tidak akan sampai ke tujuan yang telah Aku sediakan bagimu. Tersesatlah kamu bersama dunia.”
 
“Sekali lagi, apakah dunia ini bisa menyelamatkan kamu? Dengan harta bendamu, dengan segala kemauanmu, dengan kepunyaanmu, hai anak-anak-Ku? Celakalah kamu dengan harta bendamu itu, masuk bersama dunia ini.”
 
Sedang Ibu Maria mengatakan : ”Anak-anak-ku, renungkanlah kehadiran-ku ini membawa berkat bagi kamu, supaya kamu hidup dengan baik, bersatu dengan Allah, supaya kamu bahagia menjelang hari itu tiba ke bumi. Apa kamu tahu waktunya hanya tinggal sedikit saja? Apakah kamu sudah siap menghadapinya? Belum. Engkau belum siap.”
 
Kita Belum Siap
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
Mengapa setelah dua belas tahun ini kita belum juga siap? Malahan dari jumlah anggota yang dulu sudah banyak, yang hingga kini masih aktif tinggal sedikit saja? Tahun lalu, ketika Ibu Maria meminta kita membangun Tempat Doa ini ( Tempat Doa hati Ibu yang bahagia, Cimahi, red ),Ibu Maria menasehati kita tiga bulan berturut-turut sebagai berikut :
 
 Pada tanggal 24 Maret 2006: “Bekerjalah dengan hatimu bersama-sama sehati-sejiwa dalam kamu melakukan tugas itu. Bekerjalah dengan damai, tidak ada perselisihan, tapi kebersamaan, saling mengampuni.”
 
Pada tanggal 7 April 2006: “Jangan membangun dengan hati yang belum terselesaikan, nanti iblis akan ikut campur tangan.”
 
Pada tanggal 5 Mei 2006: “Sekali lagi Aku minta kepadamu untuk mengerti. Aku tidak ingin tempat ini engkau bangun dengan hatimu yang belum terselesaikan. Nanti iblis akan ikut campur tangan. Aku minta jernihkanlah hatimu, tuluskan hatimu, kebersamaanmu menerima apa yang Aku mintakan kepada kamu yang ada di sini. Kalau hatimu belum tenang, janganlah berbuat, akhirnya tidak baik. Maksud baik, tapi hasilnya tidak memenuhi apa yang menjadi keinginan-ku, supaya anak-anak-ku berkumpul di sini, mulai membuka hati untuk saat-saat terakhir ini.”
 
Selain itu pada beberapa kesempatan lain Ibu Maria juga meminta kita, supaya tidak terlalu memperhatikan harga diri kita, yang mungkin pernah dilecehkan orang lain, sebab dengan itu jalan damai akan tertutup. Dalam hal ini baik kita ingat kata-kata Yesus berikut ini: “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu itu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5:23)
 
Kita Anak dari Ibu Jasmani Kita, Hawa
 
            Dari semua yang dikemukakan di atas ini, kita semua harus mengakui bahwa kita masih mewarisi semangat dunia dari ibu jasmani kita, Hawa, yang belum merasa puas dengan segala yang dimilikinya. Ketidak-puasan itu membuka peluang bagi iblis untuk menggoda dan menjatuhkan dirinya ke dalam dosa. Mari kita dengar dialog antara iblis dan Hawa, yang dimulai dengan kalimat yang menjebak: “Tentulah Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Jebakan iblis berhasil. Hawa menjawab : “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” ( Kej 2 : 1a-3)Hawa menjawab dengan mengulangi lagi kata-kata Tuhan, tetapi dengan menambah kata-katanya sendiri ‘ataupun raba’, hal mana menimbulkan kesan seakan-akan Allah itu keras sekali sikapNya. Dan itu memberi peluang lagi kepada iblis untuk melanjutkan maksud jahatnya. Dan ia berhasil. Seperti kita tahu, Hawa lalu memetik dan memakan buah yang terlarang itu, dan dengan demikian ia jatuh ke dalam dosa. Akibatnya, ia dibuang bersama Adam dari Taman Eden, tempat kebahagiaan bersama Allah.
 
Anak Hawa Yang Terbuang
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
Kita sebagai keturunan Hawa dinamakan “anak-anak Hawa yang terbuang”. Ide itu diungkapkan dengan bagus sekali dalam Antifon Salve Regina atau Salam ya Ratu, yang dinyanyikan sebagai penutup doa malam. Di dalam antifon itu kita menyadari Maria sebagai Ibu yang berbelas kasih, sebagai hidup, hiburan dan harapan kita. Lalu sebagai anak Hawa yang terbuang, kita minta Ibu Maria memperhatikan keluh kesah kita dalam lembah duka ini.
 
Sekarang berkaitan dengan puncak pemurnian yang “hanya tinggal sedikit waktu saja” akan tiba, apa yang harus kita buat? Pertama-tama tentu kita harus mempersiapkan diri kita dengan baik. Ingat, di atas tadi Ibu Maria mengatakan: “Apakah kamu sudah siap menghadapinya? Belum! Kamu belum siap.”
 
Tidak usah kita tanya lagi, mengapa kita belum siap. Tadi kita sudah dengar sendiri kata-kata Tuhan Yesus: Celakalah kamu bersama dunia.” “Tersesatlah kamu bersama dunia.” Mengapa kita celaka dan tersesat bersama dunia? Karena kita masih berlekat hati kepada “harta-benda” dan “kepunyaan kita” dan karena kita lebih mementingkan “kemauan” kita sendiri daripada kehendak Allah. Kita masih merupakan anak-anak Hawa, ibu jasmani kita. Sifat berlekat hati kepada “harta-benda” dan “kepunyaan” jasmani adalah sifat Hawa.  Mementingkan kemauan sendiri dan bukan kehendak Allah adalah cita-cita Hawa, yang mendorong dia untuk memetik dan memakan buah terlarang di taman Eden.
 
Maria, Ibu Rohani Kita
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
            Yang harus kita buat sekarang pertama-tama ialah membebaskan diri kita dari semangat dunia yang kita warisi dari ibu jasmani kita, Hawa, lalu menyerahkan diri kita kepada bimbingan Ibu Maria, yang pada tanggal 24 Maret 2007 yang baru lalu kembali mengatakan dirinya sebagai Ibu Rohani kita. Saya yakin, Ibu Maria dengan sengaja mengingatkan dirinya adalah  Ibu Rohani kita, yaitu supaya mengalihkan pikiran kita dari ibu jasmani kita, Hawa, yang telah menyeret kita ikut terbuang dari taman Eden, lalu menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada bimbingannya agar kita dapat bahagia bersama Tuhan.
           
Jangan lupa, Tuhan telah menentukan Ibu Maria sebagai Ibu Rohani kita sejak peristiwa di taman Eden itu. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, antara keturunanmu dengan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Kata keturunan ini oleh Septuaginta, Kitab Suci edisi Yunani, diterjemahkan dengan kata ganti diri ketiga laki-laki, dan itu artinya Mesias. Tetapi Mesias tidak dapat dipisahkan dari IbuNya, dan itu kita temukan dalam Vulgata, Kitab Suci edisi latin, yang menterjemahkannya dengan kata ganti diri ketiga perempuan, dan itu artinya Maria. Kemudian secara nyata dan resmi Mesias, Yesus, menyerahkan Maria dari salib di gunung Kalvari, sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.
 
Anak Rohani Ibu Maria
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
            Setelah kita menyerahkan diri kita kepada bimbingan Ibu maria, maka kita akan dibinanya menjadi manusia rohani yang mempunyai keutaman-keutamaan yang luhur, antara lain:
v     Kita akan menjadi manusia baru dengan hati yang penuh semangat sehati – sejiwa.
v     Manusia dengan hati yang dengan semangat saling mengampuni, semangat kebersamaan, tidak suka perselisihan.
v     Manusia dengan hati yang jernih, yang tulus, yang tenang.
v     Manusia yang tidak berlebihan dalam mempertahankan harga diri.
v     Manusia yang tidak berlekat hati kepada harta benda jasmani dan rela membagi berkat yang diperolehnya dengan saudara-saudara yang menderita dan berkekurangan.
v     Manusia yang tidak berlebihan mempertahankan kemauannya sendiri dan rela mengalah demi kepentingan bersama yang lebih besar.
 
Setelah pembentukan ini selesai, maka siaplah kita untuk bekerjasama dengan Ibu Rohani kita, Maria, untuk melayani dan memberi kesaksian.
 
 
Peluncuran Website Baru
 
Saudara-saudari anggota Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia,
 
            Kebetulan hari ini kita akan meluncurkan sebuah website baru, guna lebih meningkatkan pelayanan kita, karena bisa menjangkau massa yang lebih luas. Tetapi kiranya jangan kita lupa, bahwa yang paling penting bukanlah hanya bahwa orang mendapat akses ke internet kita lalu dapat mengutip pesan-pesan yang disampaikan Tuhan Yesus dan Ibu Maria. Teks pesan-pesan, tanpa komentar barangkali tidak akan banyak menolong. Maka menurut hemat saya, sangat diperlukan adanya komentar, adanya contoh-contoh penghayatan pesan-pesan itu.
 
            Ada pepatah latin yang berbunyi : Verba docent exempla trahunt, yang artinya kata-kata mengajar tetapi teladanlah yang menarik. Kita boleh menyampaikan banyak bahan, tetapi apabila bahan-bahan itu tidak disertai dengan contoh-contoh, bagaimana bahan-bahan itu dihayati dalam hidup sehari-hari, maka bahan itu tidak akan menarik, tidak akan mempengaruhi orang. Ini akan menjadi tugas tambahan kita saat mewartakan pesan-pesan Tuhan Yesus dan Ibu Maria kedalam website.
 
            Saya harap para pengelola website memperhatikan hal ini.
 
Sekian. Amin.
 
 
Penulis :
Mgr.Isak Doera, Pr
Jumat Pertama, 4 Mei 2007
 
© Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia | Entries (RSS) | Sitemap | develop by evolutionteams.com