Sharing Iman Tentang Dosa Asal di rumah Ibu Agnes Cimahi, Jawa Barat

30 June 2017

SHARING IBU AGNES:

Romo yang kami kasihi dan kita semua yang dikasihi Tuhan Yesus dan Ibu Maria. Ini sangat dalam, pengalaman pribadi saya. Ini disebabkan adalah karena romo Petrus Argo selalu sering bertanya terus, beraneka-ragam, dimana dia mau memberikan renungan dalam misa, dia dua hari atau tiga hari sebelumnya kita sharing dulu.

Nah, sharingnya ini menyangkut dosa asal. Jadi sebenarnya pengertian itu sudah diterangkan oleh saya tapi itu spontan saja. Gitu ya.

Ah—saya menjawab sama romo Argo. Mo, saya bertanya sama romo, kalau ada anak bayi meninggal sebelum dibaptis, apakah anak ini akan menanggung dosa-asal yang dikatakan dosa asalnya Adam dan Hawa. Menurut romo bagaimana ini ? Dia diam.

Kalau itu terjadi, mo berarti Allah itu kejam banget. Gitu lo. Setiap manusia lahir ke bumi ini dibebani dosa-asal dari Adam dan Hawa. Gitu lo.

Terus saya menyeletuk seperti ini, Mo kalau saya tahu sedikit tentang pelajaran dosa asal, inikan fatwanya St Agustinus benar nggak ? (iya ibu)

Lah ini, ini kan tidak ada dalam kitab-suci, ya, mo. Tapi itu baik juga. Sebenarnya St Agustinus itu mau menyatakan dosa satu orang itu bisa membawa akibat bagi sekitarnya. Tapi kalau sekitarnya kuat dalam iman dia tidak akan jatuh dalam dosa. Kenapa, mo ?

Gini. Saya jelaskan juga bagaimana bapa Yohanes Pembaptis mengatakan :”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” Maka itulah Allah menjadi manusia menjadi Tuhan namanya Yesus datang ke bumi ini. Gitu lo.

Berawal sebenarnya, mo.. Setan itu tidak diciptakan oleh Allah. Itu malaikat yang ingin ikut meminta kuasa Tuhan diberikan kepada mereka, itu awal mulanya. Tuhan murka dia diusir. Pengusiran malaekat ini sebelum kita diciptakan lo, mo, itu ada Adam dan Hawa menjadikan suatu contoh konkrit rohani, kalau kita tidak diselamatkan oleh Tuhan, akan terjatuh seperti itu.

Lah, ini dimulai dari Adam dan Hawa mengalami kegoncangan waktu pengaruh dari setan itu. Kan gitu ya mo ? Diam dia.

Maka Tuhan datang sebutan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, itu ada– awalnya adalah Yohanes Pembaptis. Itu dari mana ?
-Ya dari Tuhan sendiri mau menyatakan DIRINYA melalui Bapa Yohanes-Pembaptis supaya diperjelaskan maksud dan tujuan Tuhan datang ke bumi ini untuk apa ? Gitu lo.
Satu lagi ya mo– masa Tuhan menciptakan manusia tidak dijaga, dilindungi, diselamatkan dan diperkenalkan siapa Sang Penciptanya, kan begitu mo– .Apakah diciptakan langsung dibiarkan begitu saja ? kan tidak .

Lah- inilah maka Perjanjian-Lama itu adalah persiapan untuk Allah datang ke bumi ini.

-Saya tanya lagi mo —Apakah Bapa-bapa Perjanjian-Lama, Nabi-nabi dan mereka yang percaya, mereka pulang sekarang membawa dosa Adam dan Hawa ? Ya, nggak lah mo.. gitu ya.

Jadi ini yang kami perbincangkan akhirnya Bapa Yohanes-Pembaptis itu datang. Aku lagi berfikir, masih merenungkan lagii.

Kehadiran St.Yohanes Pembaptis

Ini kami selalu sharing dan aku terima kasih sama romo Argo aku juga mendapatkan pengalaman rohani itu. Dia terus nyecer saya , gitu. Sampai kadang dua jam. Ini HP saya besarkan saya taruh dibantal. Kalau di kupingku kan panas, nah itu ya. Sampai sakit kupingku, ini saya taruh di bawah, kita ngomong. Gitu.

Datanglah beliau (Yohanes-Pembaptis) Apa yang kamu bicarakan itu benar. Dia tidak panggil aku Agnes. Apa yang kau katakan itu kepada imammu adalah benar. Sekarang—

Bu Ola nyelutuk : bu nggak dipanggil “enduk ”
Bu Agnes : Nggak.
Bu Ola : panggilnya siapa ? kamu aja ?
Bu Agnes : Kamu. Aku tidak dipanggil Agnes. Tidak. Kamu. Langsung kamu benar. Ini orang kok galak banget dalam hatiku. Jadi sambil beliau bicara hatiku kan bertanya “Siapakah ini kok galak banget?”

Jangan kamu berfikir apa yang tidak kamu mengerti. Aku jelaskan dulu baru aku memperkenalkan diriku kepada kamu. Lah aku bengong apa maksudnya. Lah itu ya. Terus cerita:
Benar. Apa yang kau katakan itu benar. Aku datang mendahului Tuhan adalah meluruskan jalan bagi anak-anak Tuhan yang diciptakan-NYA di bumi ini supaya mereka terselamatkan dari dosa yang diciptakan dunia. (bdk Yoh 1: 6-8,15)

Dia tidak mengatakan dosa Adam dan Hawa. Nggak. Dosa yang diciptakan dunia ini.

“Aku mendahului” Ingat apa yang kau baca dalam kitab-suci: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Untuk membuka tali kasutnya saja aku tidak layak“. Menurut kamu itu siapa ? (bdk Yoh 1: 19-23)
- Itu Allah.

Benar. Itulah Allah yang akan datang ke bumi ini. Tapi aku diutus mendahului, meluruskan, mempertobatkan. Aku membaptis mereka dengan air maksudnya mempertobatkan, belum terselamatkan. Ini kuncinya. Gitu.

Tapi nanti pada waktunya akan datang DIA-lah yang akan menyelamatkan, kamu akan dibaptis dalam roh dan api. Siapakah itu ? Jawab!

Wah aku disuruh jawab—Allah lagi.

Benar. Allah datang ke bumi ini menjadi manusia disebut Tuhan. Apakah selama ini kamu belajar para nabi mereka disebut Tuhan ? Tidak. Tidak kan ?

Tidak.

Hanya Allah yang disebut Tuhan datang ke bumi ini. Yakini, imani itu lebih dahulu, baru kamu mengerti rencana Allah hidup dalam kehidupanmu.

Wou— galak banget, ada satu jam. Ini aku nangis terus ya. Apa aku tadi aku salah mengasih pengertian sama si Argo. Tapi dikatakan: itu benar. Tapi aku melengkapi apa yang kamu sampaikan kepada imammu. Kamu mengerti ?

Iya saya mengerti dan memahami. Terus dia begini dan begini bahasannya ini: Aku mengatakan lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Apakah aku pernah bicara dalam kitab-sucimu Anak Domba Allah yang menghapus dosa Adam dan Hawa ?

Wo—kaget saya. Kaget aku.

Ada tertulis ?

Tidak ada bapa.

Bagus. Ini darimana kamu dapat ?

Lah itu aku di bleder kan.

Ini pengertian ini dari mana kamu dapat ? Sedang di katakan, dalam rumah Allah, dalam gereja dengan para imam, mereka masih meragukan keputusan ini.

Ya aku tahu itu santo Agustinus. Aku juga tahunya dari siapa, aku nggak tahu juga. Tiba-tiba ngomong sama romo Argo. Itu kok nggak salah ya.

Tapi ndak salah. Ini benar kata romo.

Santo Agustinus kan ?

Iya ibu.

Sekarang ini romo, banyak keraguan imam-imam mengenai dosa asal ini.

Bu Ola: Tetapi kan dalam surat rasul Paulus—– tapi saya harus lihat korkondansi baru bisa bilang. Kan dikatakan karena Adam maka dosa masuk kedalam dunia dan bersama dosa itu maut masuk ke dalam dunia.

Ya, Tapi kan kita tidak menanggung dosa Adam dan Hawa. Ini yang dipersoalkan.

Bu Ola : Karena kesalahan Adam maka dosa masuk kedalam dunia dan bersama dosa itu maut—ini kata-katanya saya lupa….. (bdk Roma 5: 12-21)

Iya. Itu dijelaskan sama beliau. Tadi aku katakan bahwa ini awal mula bagaimana Tuhan akan menjelaskan. Kalau ini tidak terjadi dengan Adam dan Hawa, bagaimana mungkin ini akan kita mengerti dosa itu dari mana datangnya. Kan begitu. Iblis itu sudah ada sebelum Adam dan Hawa.
Nah, jadi pengalaman Adam dan Hawa itu adalah pengalaman yang nantinya berlanjut kepada kita yang fana ini. Tapi setelah kita dibaptis, itu dipisahkan oleh Tuhan segala perbuatan dosa-dosa dunia itu. Kamu bisa menangani karena AKU menyertaimu.

Lah, seperti kita lihat orang dunia nampaknya baik tapi kebenaran itu tidak ada. Apakah itu masuk dalam kebenaran ? Tidak.

Jadi siapapun yang dibaptis akan dipisahkan dari dosa-dosa dunia ini, supaya kamu bijak, ya. Supaya kamu bijak bisa membedakan roh mana yang baik dan tidak baik, yang akan kamu angkat, kamu hidupkan dalam hidupmu. Itu kata Yohanes-Pembaptis. Jadi bukan karena dosa. Itu pengertian rasul Paulus itu, bisa pengertian yang bagaimana, gitu lo. Tidak begitu maksudnya. (bdk Roma 5:12-21)

Bu Ola: Katanya, badan kita kan begitu lahir nempel dosa asalnya.

Bu Agnes : Ndak begitu—ndak- ndak. Ya, bukan nempel. Semua manusia itu, sekarang juga, manusia dikatakan yang tidak terselamatkan, yang mereka yang tidak percaya kepada Allah dan dibaptis, masih ada kok sekarang.

Bu Ola : iya

Bu Agnes : Kenapa kita bingung ? Ada kok. Ada sekarang ini. Di bumi ini banyak.

Bu Ola: Jadi yang nempel itu adalah kecenderungan berbuat dosa ya ?

Bu Agnes : Iya. Iya.

Romo Alexius Widianto : Ada. Ada dua hal dari dosa asal itu. Tadi saya suka dengan terjemahan : dosa asal itu adalah dosa yang datang dari dunia.
Yang pertama: Bahwa manusia lalu kemudian mempunyai kecenderungan (oleh kelemahannya dan oleh badan yang fananya), iya karena dunia. Karna dunia. Semua itu karna dunia. Jadi kalau tadi berangkat dari dosa asal adalah dosa yang datang dari dunia.
Yang ke-dua, dosa asal itu adalah dosa yang mengakibatkan saya selalu mempunyai kecenderungan untuk ikut dunia. Begitulah kira-kira. Ya ?

Bu Agnes : Iya gitu. Begitu mo.

Jadi beliau mengatakan, sebenarnya perpisahan manusia itu dengan Allah karena dosa. Inilah yang mau ditanamkan dalam kehidupanmu supaya kamu dibaptis dalam roh dan api bahwa kamu walaupun kamu jatuh, kamu langsung bangkit, ya. Kamu menyadari tentang dosa dan bertobat. Lah ini maksudnya, kan gitu. (bdk Yoh 1:33; Luk 3:16)

Jadi selama ini kan aku juga bingung. Aku sejak dibaptis aku ngeri juga ya, aku harus nanggung dosa Adam dan Hawa. Itu sejak aku dibaptis aku sudah berfikir. Tapi terjawabnya itu karena Argo. Aku sudah punya PR udah sekian lama mo. Baru sekarang ini PR ku kita bukalah ramai-ramai.

Bu Ola : Tapi pernah, rasul Yohanes juga pernah membahas juga kan, bu ?

Bu Agnes : Pernah juga ?

Bu Ola : Di rekoleksi. Rasul Yohanes mengatakan itu, bahwa oleh penebusan Yesus sebetulnya kita semua sudah, kita yang sudah di baptis sudah diangkat. Kenapa kita kok masih mau menghambakan diri lagi oleh kelemahan kita kepada kecenderungan berbuat dosa gara-gara dunia. Sebetulnya kita sudah, sudah putus, oleh Tuhan sudah ditebus, sudah dibayar lunas, ya mo. Kenapa kamu masih mau kesitu.

Bu Agnes: Ya, istilahnya gitu menghapus dosa. Itu artinya sangat luar biasa. Sangat tinggi. Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu menghapus dosa dunia. Ini kita ini. Jadi fisik-fisik kita ini karena kita sudah dibersihkan oleh roh Tuhan sendiri kita dikuatkan oleh Tuhan, dipersatukan oleh Tuhan dan kita ini diperkenalkan, kamu punya Allah di surga. Jangan takut. Jadi bagaimana injil kemarin “jangan takut” kan ?

Bu Ola : iya

Jadi ini ada benang merahnya semua ada dalam kitab-suci. Jadi apa yang kita pandang selama ini kita menanggung dosa Adam dan Hawa, itu tidak benar.
Yohanes-Pembaptis ‘tinggi’ banget masalah ini. Maka sekali lagi mengapa Tuhan tidak mengatakan : AKU lah anak Domba Allah yang menghapus dosa Adam dan Hawa. Ingat itu, ada nggak. ? Nggak ada. Ingat itu! Jangan dilakukan.

Bu Ola : Dosa dunia.

Bu Agnes : Dosa dunia, iya. Jadi kita dibaptis itu adalah mengangkat kita supaya kita tidak condong jatuh dosa yang diperbuat oleh dunia. Yang membuat dosa dunia itu kan iblis. Ah— jadi iblis itu- awal mulanya, itulah, Adam dan Hawa mengalami itu. Gitu lo.

Jadi inilah makanya Tuhan datang ke bumi ini mau menyelesaikan ini semua, jangan sampai manusia ini tidak terselamatkan, kalau Tuhan tidak datang ke bumi ini. Akhirnya kita kan tidak mengenal Tuhan. Kalau Tuhan Yesus tidak datang siapa akan mengenal-NYA ? Kita mau jadi apa ? Ya, tidak. DIA tanggung jawab. (bdk Yoh 1:18)

Kata Ibu Maria, maka kesempurnaan Allah itu adalah menciptakan kamu. Itu sempurna. Allah sempurna menciptakan kamu semua hidup di bumi ini untuk memuliakan dia. Kalau kamu tidak diciptakan, Allah tidak sempurna karna tidak ada yang menyembah Allah. Itu Ibu Maria mengatakan demikian itu.

Jadi kemarin itu Bapa Yohanes–Pembaptis menjelaskan seperti itu. Tidak. Makanya aku mendapat sharing sedikit tentang anak bayi. Kamu pernah tanya dulu kan?.
Bagaimana kalau anak bayi itu meninggal sebelum dibaptis ? Dia selamat atas baptisan ke-dua orang-tuanya. Okey. Ingat itu. Tidak sia-sia anak itu lahir dari kedua orang-tuanya yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Dia masuk bagian dari baptisan itu.

Terus ke-dua lagi tentang berkat perkawinan. Saya dulu kan dapat dispensasi. Ya. Saya dinikahkan—ya udahlah nggak usah masalah lagi. Cuma gitu. Tapi setelah saya dibaptis selamatlah perkawinanku itu. Terbekati oleh Tuhan penuh dan saya tidak dinikahkan lagi. Jadi baptisanku ini menyelamatkan pernikahanku berkatku dalam gereja oleh tangan imam, gitu. Ada dua hal ini ya. Ada dua hal. Ini aku diajarkan oleh beliau seperti itu. Nah—jadi kamu mengerti ?

(Jawab umat : iya. mengerti dan memahami)

Yohanes Pembaptis: Tolong bicara tentang ini, ya. ! Apakah kamu tidak malu dengan dunia mempunyai Allah begitu kejam hah, membawa dosa orang lain diserahkan kepada kamu, kamu datang ke bumi. Tidak !

Dikatakan begitu, tidak ada. Tidak ada. Aku, aku—iiiii— galak banget beliau iiii. Kalau ngomong pantesan dia mengok-mengok begitu. Tegas orangnya. Galak. Jadi aku bengong gitu, ya lama dia belum mau memperkenalkan. Kalau setelah dia menceritakan itu, kamu sudah mengerti, agak turun dia.

(Sudah, sudah bapa. Saya sudah mengerti tentang—aku tidak tahu dia nabi atau apa, aku panggil dia bapa aja. Iya bapa saya sudah memahami.)

Ini. Ini sampaikan, jangan salah. Ingat. Kamu baca nggak dalam kitab-sucimu, siapa yang menambahkan atau mengurangi dia akan di hukum Tuhan. (bdk Wahyu 22: 18-19)

(Iya saya baca.)

Ingat itu. Yakini itu.

Bu Ola : ampun deh

Yakini itu. Yakini apa yang sudah tertulis, tertulislah. Jangan dikatakan bahwa ini karangan manusia. Tidak ! Mereka menulis, Allah sendiri yang memberikan tulisan itu, untuk kamu terima di dalam kitab-suci. Allah sendiri yang bekerja.

Kamu lihat bagaimana bapa-bapa atau nabi-nabi, mereka itu siapa ? Allah sendiri bekerja bersama mereka untuk menjadi saksi tentang Allah, yang mau menyelamatkan manusia yang diciptakan-NYA di bumi ini, maka DIA harus datang. Dipersiapkan semuanya. Terus dia mengingatkan lagi—

Kamu pikir mereka yang percaya Hukum-Taurat mereka tidak masuk surga ?

(Saya percaya banget mereka masuk surga.)

Bagus. Ya, Tetapi Hukum-Taurat itu akan disempurnakan setelah Allah datang ke bumi ini. (bdk Mat 5:17-18) Karena DIA-lah, perkataan DIA sendiri, ditambahkan lagi untuk menguatkan kamu semua bahwa Allah sungguh-sungguh berjanji dan datang untuk menyelamatkan manusia ciptaan-NYA di bumi ini. Silahkan, siapa yang tidak percaya, silahkan. Itu urusan mereka. Sekarang kamu yang percaya ini, setialah kamu kepada Allah.

Woo…. aku masih—ini, ini kayaknya aku diingatkannya kembali memori saya ya. Tadinya aku mikir aku mau bersaksi apa ya.

Ternyata aku bisa mengungkapkan ini blengblengbleng. Dibukakan lagi memori saya kepada—saat ini saya bersaksi gitu lo. Itu tadi.

Saya kan jadi yhaaa gara-gara romo Argo jadi terbuka semuanya. Tapi dia sukacita banget romo Argo. Katanya, Ini sejak saya dibaptis ibu Agnes sampai saya di biara ini menjadi pikiran di otak saya “Kenapa aku harus menanggung dosa Adam dan Hawa?”. Allah itu kayak apa ya. Gitu.

Bu Ola : Bu kita pernah berfikir antara Yohanes pembaptis dengan Yesus galakan Yohanes pembaptis daripada Allah sendiri.

Bu Agnes : Iya benar. Tapi itu harus. Karena dia membuka jalan. Kan orang bebal-bebal semua sekitar itu pada waktu itu, bagaimana mereka-mereka yang tidak percaya. Itu harus ditanamkan tegas dan terpercaya ya. (tegas dan terpercaya, ya) Lah harus begitu. Kalau datanglah nabi, klemak-klemek mau jadi apa ? lho, kutipu dia kan, kan begitu, ya. Ya. Coba kita lihat pengalaman kita dalam Perjanjian-Lama tegas semua mereka. Ya, tegas semua.
Ini yang kemarin, Yohanes pembaptis, perjalanan dia: “Jadi aku diutus lebih dahulu, kamu mengerti ? Bukan aku lebih tinggi. Tidak. Untuk buka kasutnyapun aku tidak layak, Tapi itulah kehendak Allah aku meluruskan ciptaan-NYA supaya mereka hatinya terbuka supaya mereka bertobat. Tapi aku belum menyelamatkannya.”

Berarti protestan itu, itu membawa mereka bertobat tapi mereka tidak bisa terselamatkan. Belum, karena belum dibaptis, ya, belum dibaptis. Gitu lo.

Jadi seperti itu kemarin ceritanya bapa Yohanes-Pembaptis, aku bilang dia rasul, kan dia rasul terakhir ya, romo ? Nabi yang terakhir, ya, romo ?

Bu Ola : Nabi terakhir

Bu Agnes : iya, nabi terakhir

Romo Widi : Nabi padang gurun. Orangnya keras.

Bu Agnes : iya orang nya keras. Tapi kita panggil beliau apa ?

Romo Widi : pakaiannya bulu onta, minumannya susu beruang ya. Hahahaha—dia memang orang keras karena dari padang gurun.

Bu Agnes : Iya, tapi memang diciptakan untuk itu. Jadi banyaklah orang bertobat dan mendengarkan dan menerima kehadiran Tuhan untuk menyelamatkan dan mau menjadikan manusia baru yang dijauhkan dari dunia yang penuh dosa ini.

Maka, DIA-lah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, karena dunia mau menciptakan dosa. Kalau kita tidak diselesaikan oleh Tuhan, mampuslah saya. Aduh, mau kemana kita semua, ya. ? Seperti mereka, mereka mau kemana, kan begitu. Ini dikatakan mereka mau kemana ? Ini. Mereka baik, tapi kebenaran itu tidak ada dalam kehidupan mereka. Itu bukan iman, itu adalah hukum. Hukum bisa berubah, sekarang iya dan esok tidak. Dan disetujui atau tidak, kan gitu. Hukum manusia ya seperti itu.
Jadi berbahagia. Berbahagialah kamu, Allah datang, bertanggungjawab atas segala ciptaan-NYA.
Iya benar jugalah. Kalau Tuhan tidak datang kita mau jadi apa. Masa Tuhan Allah sudah menciptakan manusia terus dibiarkan aja begitu. Terus kita…… terus matinya kayak binatanglah kan begitu kan ? Yah aku ngomongnya kasar juga ya. Ya seperti itu ya kayak binatang, binatang itu mati tidak berbekas. Ya mati, mati aja. Kalau kita kan, tidak. Kita mati itu awal kebahagiaan untuk bersatu dengan Tuhan di surga. Kan begitu.

Jadi kemarin itu menjelaskan: tidak ada kamu menanggung dosa siapapun. Tetapi kalau kamu berbuat dosa kamu tanggung dosamu dan kamu pisah sejenak dengan Tuhan. Ya, itu benar, itu kuakui. Bilamana kamu berbuat dosa, kamu tidak bertemu dengan Tuhan, kecuali kamu pulang kembali dan bertobat, kamu bersatu lagi kepada Tuhan. Tuhan kasih hak bebas kepada manusia. Itu kata beliau kemarin.

Jadi yang menjauhkan kita adalah dosa pribadi. Kita jauh sama Tuhan, ya seperti itu. Lah ini yang mau di selesaikan oleh Tuhan jangan sampai kamu terpuruk-puruk jatuh dalam dosa. Maka AKU datang menyelamatkan kamu semua. Kamu KU-selesaikan hidupmu semua, sehingga kamu bahagia di dalam nama-KU.

Di dalam nama-KU itu sudah jadi satu, ya, itu luar biasa seperti kita menyambut ekaristi ya. “siapa makan daging-KU dan darah-KU , dia dalam AKU, AKU dalam dia”. (bdk Yoh 6: 56) Supaya kamu bisa sampai tujuan bertemu dengan AKU di surga. Seperti itulah bahasanya. Itu melalui ekaristi. (bdk Wahyu 19:9)

Doa harian menyiapkan diri untuk menyambut ekaristi di hari Tuhan.

Sekarang mo, saya digerakkan oleh Tuhan. Sekarang, saya ajak cucu, anak, setiap malam jam enam atau sekitar setengah-tujuh saya bawa dalam doa. Kita berdoa bersama dalam keluarga ini untuk mempersiapkan, aku ingat apa dikatakan beliau tadi, Yohanes-Pembaptis, ya. Karena Tuhan Yesus akan memberikan hidup-NYA kepada kamu seutuhnya, itu adalah dalam perjamuan. Lah kalau aku tidak siap—- aku tidak dapat menyambut Tubuh Tuhan.
Jadi aku mulai mempersiapkan, mulai Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu. Disini, kami enam hari ini kami mempersiapkan diri kami untuk undangan Tuhan, pesta-iman bersatu dengan Tuhan, supaya aku bisa menyambut ekaristi dengan baik. Jadi ini, aku dapat pengalaman dari Yohanes-Pembaptis.

Ayo, kalian mulailah. Mulai. Jadi setiap malam kita berkumpul. Aku doa pasrah setiap malam berkumpul menyerahkan diri kepada Tuhan, mohon pengampunan supaya kami boleh layak nanti di saat ENGKAU mengundang kami, kami berpakaian yang pantas Tuhan, bisa masuk dalam perjamuan.
Ini, ini gerakan Yohanes-Pembaptis untuk saya. Sekarang aku lakukan dalam keluarga, ya setiap malam. Dan akhirnya satu ini, itu dalam keluarga kalian juga. Kita angkat.

(seorang bertanya: Bu, kalau berjauhan?)

Sekarang kalau berjauhan. Sekarang begini, anaknya berjauhan, mereka suruh kumpul, dimana mereka bersatu dalam keluarga mereka, kalau mereka sudah punya istri, punya anak. Disini, dimana dua tiga orang berkumpul kan Tuhan hadir. (bdk Mat 18:20) Kita tidak harus banyak-banyak. Ya, dua, tiga orang berkumpul Tuhan janji hadir melalui kuasa-NYA. Itu, hadir. Sungguh hadir. Maka itu mulai sekarang ini, ini perintahnya Yohanes-Pembaptis, supaya kamu layak masuk dalam Perjamuan-Kudus. Kamu percaya “Roti yang turun dari surga apa kata Yohanes ? (bdk Yoh 6:50-51)

(Iya)

Injil Yohanes ?

(Iya).

Itulah DIA.
Tapi kadang-kadang, imam-imam juga tidak percaya bahwa Roti turun dari surga itu, benar atau tidak? Sampai sekarang banyak para imam yang tidak percaya, tapi dia hanya melakukan saja, tukang misa. Tapi dia tidak memahami kehadiran Tuhan sungguh-sungguh hadir. Hadir ! Sungguh-sungguh hadir ! Kan aku sudah alami dengan romo Widi, kami itu di Nias dalam ekaristi Tuhan hadir.

Bu Ola: di Gunung Sitoli

Gunung Sitoli, itu.

Jadi tolong persiapkan diri kita, ayo kita merenungkan satu hari ini apa yang belum dan sudah, apa saya lakukan yang tidak baik maupun secara pribadi, maupun dalam keluarga, apa sesama, kita olah, kita persembahkan.

Jadi sampai ini hari Sabtu, “Tuhan persiapkanlah diri kami dengan baik, Tuhan, supaya dimana hari Tuhan, hari-Sabat yang KAU janjikan KAU berikan kepada kami, kami bisa masuk dalam undangan itu dengan sukacita.”

Kan dikatakan “berpakaian yang pantas”. Berpakaian yang pantas itu bukan pakai longdress, tangan panjang, bukan. Iman. Apakah kita beriman baik ndak ? Berpakaian yang pantas agar kita layak masuk dalam perjamuan ini.

Ini banyak lho romo-romo kurang yakin bahwa Roti yang turun dari surga itu benar atau tidak. Banyak. Kata rasul Yohanes banyak.

Tidak banyak memahami banget tentang Roti yang turun dari surga. Jadi kasihan, gitu lo. Padahal tugas beliau-beliau ini sudah dinyatakan kepada Petrus. Kan gitu, ya. Tuhan bersabda kepada Petrus, di atas batu-karang ini akan KU-dirikan gereja-KU, rumah-KU, ya. Batu-karang fisik. Ini batu-karang fisik yang dibangun melalui Petrus adalah gereja. (bdk Mat 16:18) Batu-karang rohani adalah bersama umat dan rumah Allah di surga. Itu rohani. Batu karang rohani. (bdk 1 Kor 10:4) Ini dijelaskan. Aku dijelaskan seperti ini. Inilah tugas utuh : gembalakanlah domba-domba-KU.

Romo Argo tanya: bu, arti gembalakanlah domba-domba-KU yang bagaimana, ibu ?

Bu Agnes : Iman. Imanmulah yang menyembuhkan, imanmulah yang menyelesaikan blablabla—— Iman. Jadi antar, gugah kembali, tanamkan iman kepada umatmu, supaya mereka datang kepada Tuhan. Kalau imannya tidak dibenahi kapan dia mau datang pada Tuhan dan percaya kepada Tuhan. Tolong.

Romo Argo : Oh—Iman.

Bu Agnes : Kuncinya iman, mo, saya bilang.
Gembalakanlah domba-domba-KU, sempurna tugas ini kepada para imam. Wah, luar biasa ini. Ini, ini dikupas kemarin. Beliau mengupas injil lagi, Yohanes. Yohanes-Pembaptis kupas ini semua tadi. Luar biasa.

Bu Ola : Padahal dia gurunya ya. Gurunya Yohanes. Guru nya Yohanes dia ngupas injil muridnya.

Bu Agnes : iya, betul, dikupas. Dikupas kemarin itu dikupas oleh beliau, ya. Terus beliau mengatakan begini: sekarang kamu persiapkan dirimu dengan baik. Tuhan tahu kamu tidak sempurna. Hei– sempurnalah seperti AKU. (bdk Mat 5:48)

Dikatakan injil, sempurna seperti AKU; kita mau berjuang untuk jadi anak yang baik. Kapan kamu bisa sempurna. Kamu bisa saja dengan sedikit bisa marah, sudah jatuh. Jadi ini kata beliau kemarin seperti itu, ya.

Jadi yang memisahkan kamu dengan Allah adalah dosa yang kamu buat secara pribadi ya. Itu di katakan beliau. Itu dosa yang paling jahat adalah dosa yang kamu buat sehingga kamu terpisah. Itu otomatis. Terpisah kita dari Allah. Kecuali kita bertobat dan kembali dan tidak mengulangi lagi semua itu. Semua akan menjadi baik, ya. Tuhan itu Maharahim.

Jadi ini pesan kemarin Yohanes-Pembaptis kepada saya, tentang hal yang penting : dosa asal. Ini di tegaskan terus sama beliau. Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada. Ya gitu ya.

Jadi sekarang juga Gereja kan sedang membicarakan ini dimana-mana tentang dosa asal ini, bingung. Membingungkan, karena gara-gara Santo Agustinus ini memberikan apa namanya istilah atau memberikan apa, apa namanya.

Bu Ola : Fatwa, ajaran.

Bu Agnes : Fatwa kata orang islam itu. Kok begitu, gitu lo. Dia mengambil dari pengertian Paulus. Perkataan rasul Paulus itulah beliau mengambilkan. Terus dia ambil cepat : oh ini ! Karna pertama yang berdosa Adam dan Hawa. Gitu lo ceritanya mo. Mo gitu ya mo. Aku hanya menyampaikan. Terus kita lanjutkan dulu ya.

===========================

RESUME ROMO Alexius Widianto :

Jadi pemahaman Gereja mengenai dosa-asal, itu pada jaman dulu diartikan sebagai dosa Adam dan Hawa yang terus berlanjut sampai sekarang. Atau dosa-asal itu diterjemahkan sebagai dosa turun temurun. Dua istilah itu selalu dipakai. Jadi dosa-asal itu, dosa yang berasal dari Adam dan Hawa yang dikenakan juga kepada kita. Lalu kemudian juga dosa-asal artinya dosa yang turun temurun.

Sebetulnya Gereja Katolik agak sedikit boleh dikatakan memberikan pencerahan kepada kita, ketika mereka dengan jelas mengatakan tidak ada pohon kehidupan yang harus dipercaya bahwa saya harus menanggung dosa dari orang-tua, nenek moyang saya. Itu sebetulnya sudah mulai jelas. Tetapi dari penjelasan yang sekarang, kita kan mendapatkan pemahaman bahwa dosa-asal itu yang dimaksud adalah dosa dari manusia yang selalu punya kecenderungan untuk melakukan kejahatan, ya.

Kecenderungan itu ada. Tapi bukan karena turun temurun tapi setiap manusia punya kecenderungan itu, ya.
Yang ke-dua dosa-asal itu artinya dosa yang datang dari dunia. Karena datang dari dunia maka Allah yang menciptakan kita, DIA pula yang harus menebusnya, supaya kita jangan sampai membawa dunia ini kepada surga nanti. Kita dipantaskan, gitu, ya.

Lalu juga, yang saya dapatkan pada saat ini adalah bayi yang belum dibaptis dari orang-tua yang sudah Katolik, maka dia diselamatkan berkat baptisan orang-tuanya. Jadi meninggal dalam kondisi belum dibaptis itu berarti dia diselamatkan oleh iman yang dimiliki oleh kedua orang-tuanya. Ya.

Lalu yang terakhir tadi yang saya dapatkan, bahwa mengapa kita harus mepersiapkan Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Kita kan sering bertanya apa sih bedanya misa harian dengan misa hari Minggu kan sama-sama misa ? iya kan ?

Dari sini kita mengatakan bahwa hari Minggu itu puncak dari ungkapan hari Tuhan. Maka Senin, Selasa, Rabu Kamis, Jumat, Sabtu itu kayak kita mempersiapkan kalau orang hajatan. Orang hajatan kan tunggu hari H-nya. Ketika menjelang hari H dia juga mempersiapkannya supaya di hari H-nya itu kita bisa berpesta. Sama! Hari Minggu itu kayak hari H dari perayaan yang ingin kita laksanakan, ya.

Kebetulan, saya kemarin menghadapi orang yang sudah kanker dua tahun, ya. Tapi kankernya itu sekarang ini dalam tubuhnya, itu bukan cuma satu jenis kanker tapi ada tiga jenis kanker, tiga jenis kanker di dalam tubuhnya, ya. Jadi di liver itu kanker yang lain, terus kemudian di darah kanker yang lain, sekarang ada di tulang, kankernya lain lagi, tapi tidak mati-mati, ya.
Jadi dia akan berangkat esok ke– tapi tunggu dari Singapore bagaimana. Tapi dalam persiapan itu dia manggil saya, lalu saya ngobrol dengan ibu itu, lalu saya mengatakan kepada dia, ibu punya kesempatan untuk silih, ya. Jadi kalau ibu sekarang mengatakan: romo saya sudah tidak ada dosa lagi. Begitu ya. Saya sudah semua, saya sudah mengaku dosa. Memang dia rutin mengaku dosa dengan saya. Cuma jengkelnya orang RC ( Regina Caeli) itu, bisa tiga hari sekali ngaku dosa, orang yang sama. Aduuh saya gregetan tapi saya tidak bisa ngomong apa-apa, ya. Nanti baru aja mikir, aduh romo, saya dosa, aduh saya dosa, saya mau ngaku dosa. Baru kemarin ngaku dosa. Saya mesti ngedidik lain lagi nih.

Tapi dari situasi ibu itu mengatakan romo, saya sakit ini, selama sakit ini, saya tidak ada tindakan yang saya lakukan sebagai situasi dosa. Tapi saya mengatakan, ibu ini kesempatannya untuk melakukan silih. Ketika ibu menderita, ya, ketika ibu bertanya pada Tuhan, ketika ibu terus-menerus mempermasalahkan kenapa sakitku kok sampai tiga jenis kanker ditubuhnya, ya. Itu kan semacam silih ketika saya, juga ketika dulu berbuat dosa ya, mungkin, ya. Saya juga kemudian kayak ulah tapa, ya, untuk bisa lebih mempersiapkan hati saya, ya.

Jadi bukan hanya Tuhan yang memberikan rahmat menghapus “dosa asal” itu. Tapi sayapun juga bisa untuk dapat berusaha memulihkannya. Ketika kita berandai– sampai— (aku tidak bilang sampai kepada api-penyucian). Tapi kalau bayangan saya kalau kita ketika jatuhpun ke dalam api-penyucian, hukuman itu menjadi diringankan oleh Tuhan. Ya.

Jadi saya mengatakan, siapa tahu ibu, ketika kita sedang berjuang seperti ini kita melakukan silih atas segala kesalahan dan dosa kita yang dulu, ya. Karena dia terus menerus ingat akan dosa yang lalu dan itu selalu dikatakan. Ibu sudah selesai yang dulu itu. Tapi kepikiran romo, katanya gitu kan. Lalu saya mengatakan ya sudah , itu menjadi silih ibu untuk menyesali saja tapi jangan berpikir bahwa Tuhan tidak bisa membersihkan, memurnikan lagi.

Jadi saya mengatakan bahwa untuk bisa melakukan silih, itu juga lalu kemudian meringankan seandainya hukuman dosa itu diberikan pada kita, ya. Kita sendiri kan ndak bisa memantaskan diri kita. Tapi kan kita bisa untuk menjadi silih atau memperoleh silih atau melakukan silih itu bukan harus menjadi sakit dulu, ya. Sekarang inipun dengan ulah tapa kita, mati raga kita, itupun sebetulnya sarana untuk hukuman yang seandainya saya kelak nanti siapa tahu ‘guwe di setrap dulu sama Tuhan’. Gitu lho, ya. Jadi aku jelaskan pada ibu itu.

Jadi tadi, penjelasan Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu itu sebetulnya juga sebagai persiapan kita, semacam silih, gue juga sebetulnya nggak pantes-pantes amat sih merayakan hari Tuhan itu, ya. Tapi kan gue juga mau deh untuk doa.

Cuma masalahnya, aku juga ingin mengatakan, tak perlu menawarkan langsung (pada orang lain) bahwa kita harus— tetapi kita lakukan dulu aja secara pribadi. Pribadi kita latihan, seperti tadi, ibu Agnes setelah mengalami, baru mengatakannya kepada kita. Ya. (iya)

Kitapun juga ndak usah sehabis ini gembar-gembor—– ee sekarang ada lo, ada doa persiapan bersama jam sekian, jam sekian (ndak ada, sahut bu Agnes) kita lakukan dulu saja. Kita lakukan lalu baru memberikan kesaksian kalau sudah kita lulus melakukannya (iya benar mo, sahut bu Agnes) iya.

Bu Ola : Romo, mau bertanya kalau memang dikatakan bayi yang belum sempat dibaptis itu terselamatkan oleh iman orang-tuanya yang menikah secara Gereja , ya. Lalu bagaimana dengan keputusan kita untuk membaptiskan bayi-bayi ? Yah, sudahlah ndak apa-apa, yang penting orang-tuanya baik-baik aja. Jadi kalau belum sempat dibaptis dia juga ndak—-, ya nanti pasti terselamatkan.

Romo Alexius : Ini untuk yang meninggal. Kalau tidak meninggal ya tanggungjawab orang-tuanya, harus dibaptis. Harus dibaptis. Ini untuk yang meninggal mendadak kok belum dibaptis. Gitu lo. Atau orang keguguran (bu Agnes : iya) kok belum dibaptis (bu Agnes :iya, iya otomatis.) Otomatis, ya. Atau embrio yang baru seminggu keguguran itupun diselamatkan oleh baptisan dari kedua orangtuanya. Ini yang dimaksudkan.

Bu Ola: Jadi tetap, bayi- bayi tetap harus dibaptis

Romo Widi & Bu Agnes : Harus. Harus tetap dibaptis
Romo Widi : ini khususnya ya untuk yang meninggal tapi belum dibaptis. Untuk yang hidup jangan ditunda. Kalau anak yang lahir harus dibaptis segera. Jangan main-main. Gitu lo. Atau masih di inkubator ndak bisa di baptis, meninggal di inkubator.

Bu Agnes : Tapi ini pengalaman saya anaknya Thomas kan. Dua hari aku bilang (gerakan roh) aku bilang dibaptis, ya dibaptis. Dibaptis Yohanesnya, esoknya dia pulang. Dia masih hidup tapi di dalam tempat—inkubator. Jadi romonya datang kesana dibaptis dia dan esoknya pulang (ke rumah Bapa).

Minic : Bu, yang waktu kita di Guangzhou, ibu minta tolong romo Broto baptis bayi yang keguguran meninggal itu , itu kan udah jadi mayat, kan udah ndak perlu dibaptiskan bu ?

Bu Agnes : Dulu itu kan masih kasih pengalaman, karena kan kedua orangtuanya itu— ya maksud saya—imannya tidak baik, ya semua tidak baik. Yaa— itu sebagai langkah mengungkapkan kembali bahwa Allah-lah yang menyelamatkan. Aku suruh, untuk kedua orangtuanya. Gradul kedua orangtuanya, gitu lo. Supaya dia ingat—kasih namanya, kasih namanya, supaya kamu ingat, gitu lo. Itu sebagai ingatan kepada kedua orangtuanya sih. Saya lihat seperti itu ya. Apalagi ?

Romo Widi : Tapi juga di lapangan nanti, jika kita melihat ada orang atau ada bayi—kan kadang-kadang ada orangtua yang sangat emosi ya ketika anaknya meninggal: romo, tolong dong atau di lingkungan minta tolong dibaptis padahal udah meninggal. Sebetulnya sudah meninggal sudah tidak ada maknanya dibaptis. Tapi kan ada orang secara psikologis minta : aduh ini masih angat, masih angat, tolong dibaptis ya. Kita tidak usah mengatakan dia sudah dibaptis. Ya kalau mau secara psikologis aja untuk menentramkan. Saya juga sering menghadapi orang baptis rindu tapi karena tidak terkejar, ya. Kemudian minta : romo tolong dong curahin air sucinya. (supaya dia yakin dan percaya, sahut bu Agnes) Supaya dia yakin gitu kan. (Ndak masalah). Tapi kita ndak perlu komentar bermacam-macam. Dalam hati kita kan mengatakan, dia baptis rindu sama nilainya atau bayi itu baptis karena iman orangtuanya, sama. Tapi kan ada orangtua yang kepengen banget atau saudara: tolong dong romo tuangin air. Nggak apa-apa, nggak dosa.

Bu Ola : Romo, setiap kali kita mendapatkan sebuah pengajaran hal baru, kan kita semangat tuh mo, pengen sharing, pengen bagi, pengen apa— padahal kita belum matang. Sikap apa sebetulnya yang sebaiknya kita ambil. Romo kan selalu wanti-wanti ee kalau belum matang jangan cerita ya nanti malah report, nanti malah salah ngomong. Sikap apa yang sebetulnya, padahal kita kan mengelola, indah sekali pengalaman mendapat pengajaran hal baru, ini kan kita pengen sekali cerita. Sikap apa…. atau, sebaiknya kita bersikap bagaimana ?

Romo Widi : saya kira kita perlu belajar dari papanya Minic right time and right place. Artinya begini, sama kan kalau kita ngomong seperti ini, saya bisa aja jelasin sebelumnya tapi kan ndak nangkap. Tetapi kalau saya melihat bahwa kita bisa memahami sesuatu ketika peristiwa terjadi, ya. Tapi kalau peristiwanya nggak ada apa-apa jangan elu ngesok nerangin. Gitu lo, ya.
Tapi, ketika– sama kan ketika kita dulu sekolah begitu banyak materi sekolah yang baru kita tahu—oooo iya kan waktu aku nangkap di sekolah perkataan ini, ya. Jadi kita baru bisa sadar itu. Sehingga, kalau kita melihat dari apa yang kita pahami sekarang, lalu jangan lalu dipamerin dengan mudah ke orang-orang. Nanti suatu ketika, saya hadapi peristiwa itu, saya sudah bisa memahami dengan baik, Ooo—gitu, aku waktu itu…. aku dapat. Persis kita sekolah. Bukan berarti ilmu yang kita dapat terus kita ngomongin ke orang melulu. Itu wrong time and wrong place. Begitu ya.

Bu Ola : Terima kasih romo.

Bu Agnes : Sebenarnya kata beliau dari diri sendiri dulu kok. Menjadi berkat bagi orang lain. Jadi rahmat bagi orang lain dari diri kita sendiri. Itu penjelasannya Yohanes-pembaptis. Begitu dalamnya : kamu jadi berkat bagi orang lain. Dari situ— Dia minta. Ya nanti kalau ada pertanyaan: kok ibu begini. Baru kita jelasin seperti itu. Jadi dari diri kita dulu. Bukan belum kita lakukan kita sudah ngomong. Sia-sia nantinya, loe jadi apa, dapat apa, begitu. Seperti itu kan. Jadi rasul Yohanes bilang begitu: dari dirimu. Kembali kepada pribadi.

Terima kasih.

===========================

REKOLEKSI KELOMPOK PELAYANAN KASIH DARI IBU YANG BAHAGIA 27-28 AGUSTUS 2016

31 July 2016

Saudaraku, pewartaan inti Kelompok Pelayanan Kasih Dari Ibu Yang Bahagia adalah tentang akan tibanya “puncak pemurnian dunia dalam tiga hari kegelapan”.
Tanggal dan waktunya tidak diketahui, tetapi dalam pesan Ibu Maria dikatakan SEGERA.
Sesudahnya, akan tiba masa damai : satu Allah, satu iman, satu Kitab Suci kita.

Kita mungkin berpendapat, saya tidak akan atau belum tentu mengalaminya. Sesungguhnya, sejak kita dibaptis, masing2 kita masuk dalam pemurnian, karena hanya yang sungguh2 bersih dapat melihat Tuhan. Pemurnian masing2 pribadi akan mencapai puncaknya pada saat kematian kita.

Tiga hari kegelapan adalah puncak pemurnian serentak bagi yang masih hidup di dunia ini. Kita bertanya: Apakah Kematian itu? Selesainya segala sesuatu bagiku? Apakah arti kematian bagi orang Katolik? Adakah kelanjutan kehidupan lain sesudah kematian?

Bicara mengenai kematian bagi orang Katolik tidak mungkin lepas dari hubungannya dengan Kematian Yesus Kristus dan juga kebangkitanNya untuk mengantar kita ke Kehidupan kekal. Rasul Paulus menulis: “Tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”. (bdk Rom 14:7-8)

Mari mendalami ajaran iman kita akan kematian dan kehidupan kekal, dalam Rekoleksi Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia, pada :

Hari/tanggal : Sabtu dan Minggu, 27-28 AGUSTUS 2016
Waktu : pukul 13.00 wib - selesai
Tempat : Rumah Retret CANOSSA, Bintaro
Jl. Bakhita No.1, Jurangmangu, Pondok Aren.
Biaya : Rp. 275,000,- PER ORANG

Ketentuan : * Biaya ditransfer ke Rek BCA, a/n Stevana Sri Wahyuningsih, No. 6000405831.
* Dinyatakan sebagai peserta apabila biaya rekoleksi sudah ditransfer paling lambat
sebelum tgl 25 Agustus 2016,
* Bagi yang ikut 1 hari baik Sabtu atau Minggu saja, harus mendaftar
* Mohon pengertiannya dan mohon koordinator Kelompok tiap2 daerah menyampaikan
pada anggota Kelompoknya,

TEMA : HIDUP ATAU MATI KITA MILIK TUHAN.
Pembimbing : * RD Alexius Widianto;
* Doa Pasrah dipandu Ibu Agnes Sawarno.

AJAKLAH SAUDARA - SAUDARA YANG LAIN.
TUHAN MEMBERKATI.

 
© Kelompok Pelayanan Kasih dari Ibu Yang Bahagia | Entries (RSS) | Sitemap | develop by evolutionteams.com